Senin, 10 November 2014

LAPORAN FISWAN"UJI BAHAN MAKANAN"

I.    JUDUL              : TEST BAHAN MAKANAN
II.    TUJUAN               : 1. Menguji besar kecilnya kandungan
         karbohidrat dan protein serta vitamin pada
jenis makanan tertentu.
III.    HARI/TANGGAL      : SELASA, 21 OKTOBER 2014
IV.    NAMA/STAMBUK      : ALJIZAT IRIANTO / A1C212034
V.    LATAR BELAKANG
Makanan dikelompokkan menjadi 2 kelompok yaitu kelompok makanan tambahan dan kelompok makanan utama. Makanan utama merpakan senyawa organik yang merupakan sumber energi yang meliputi karbohidrat, protein, dan lemak. Karbohidrat  adalah senyawa organik yang terdiri dari unsur karbon (C), hidrogen (H), dan oksigen (O) (Wulangi, 1993: 100).
Karbohidrat merupakan sumber energi utama bagi tubuh manusia, yang menyediakan 4 kalori (kilojoule) energi pangan per gram.  Karbohidrat juga mempunyai peranan penting dalam menentukan  karakteristik bahan makanan, misalnya, rasa, warna, tekstur, dan lain-lain.  Sedangkan dalam tubuh, karbohidrat berguna untuk mencegah timbulnya ketois, pemecahan tubuh protein yang berlebihan, kehilangan mineral, dan berguna untuk membantu metabolisme lemak dan protein. Karbohidrat adalah sumber kalori terbesar dalam makanan sehari-hari dan biasanya merupakan 40-45% dari asupan kalori kita. (Dawn, 2000:205).
Dalam tubuh manusia karbohidrat dapat dibentuk dari beberapa asam amino dan sebagian lemak.  Tetapi sebagian  besar karbohidrat diperoleh dari bahan makanan yang dimakan sehari-hari, terutama bahan makanan yang berasal dari tumbuh-tumbuhan.  Pada tanaman karbohidrat dibentuk dari reaksi CO2 dan H2O dengan bantuan sinar matahari melalui proses fotosintesis dalam sel tanaman yang berklorofil (Winarno, 2004:19-20).
Enzim yang bertanggung jawab dalam pencernaan karbohidrat adalah karbohidrase. Enzim ini memutuskan ikatan glikosidikpada karbohidrat sehingga dihasilkan disakarida, trisakarida, dan polisakaridalain yang memiliki rantai yang lebih pendek. Berdasarakan jumlah unit sakaraida karbohidrat dapat dibedakan menjadi 2 yaitu polisakarida dan oligosakarida (Isnaeni, 2006: 151).
Pencernaan dan penyerapan zat-zat makanan makro untuk asimilasi zat-zat makanan oleh tubuh, bahan-bahan makanan yang bersifat volunter harus terlebih dahulu mendapat proses maksisasi dan pencernaan. Dalam proses ini zat-zat polimerik sepertipati, protein, dan trigliserida dipecah menjadi bagian-bagian pembangunnya yaitu gula-gula monomerik, asam-asam amino, asam lemak, dan lain-lain. Proses pemecahan dibutuhkan oleh tubuh kecuali untuk vitamin dan unsur inorganik (Poedjiadi, 2009: 17).
Vitamin adalah komponen tambahan makanan yang berperan penting dalam gizi manusi. Banyak vitamin tidak stabil dalam kondisi pemrosesan tertentu dan penyimpanan, karena itu arus kandunga vitamin dalam makanan yang diproses dapat sangat menurun. Vitamin sintetik dipaki secara luas untuk menggantikan vitamin yang hilang dan untuk mengembalikan kandunga vitamin dalam bahan makanan (Deman, 1997: 393).
Proses pencernaan makanan adalah proses menghancurkan makanan dan substansi yang kompleks mnejadi bagian yang lebih kecil, dengan bantuan enzim tertentu dihasilkan oleh alat pencernaan itu sendiri. Proses pencernaan dimulai sejak dari mulut. Namun sebagian besar pencernaan terjadi dalam lambung dan usus (Yatim, 1976: 176).



VI.    METODOLOGI PRAKTIKUM
A.    Alat dan Bahan
1.    Alat
Alat yang digunakan dalam praktikum ini dapat dilihat pada tabel 1.
Tabel 1. Alat dan Kegunaan pada Praktikum Test Bahan Makanan
No    Nama Alat    Kegunaan
1.        Blender    Menghaluskan bahan makanan
2.        Cawan petri     Meletakkan ekstrak bahan makanan
3.        Gegep     Menjepit tabung reaksi
4.        Hot Plate    Memanaskan air
5.        Labu erlenmeyer    Menyimpan ekstrak bahan makanan
6.        Lampu Spritus    Memanaskan Bahan
7.        Pisau     Memotong bahan makanan
8.        Pipet Tetes    Mengambil larutan dan ekstrak makanan
9.        Rak Tabung Reaksi    Meletakkan tabung reaksi yang berisi makanan
10.        Tabung Reaksi    Meletakkan bahan makanan yang diuji

2.    Bahan
Bahan yang digunakan pada praktikum kali ini adalah sebagai berikut:
a.    Bahan makanan baik buah ataupun sayuran yaitu, buah tomat (Solanum licopersicum), buah pisang (Musa paradisiaca), buah semangka (Citrullus lanatus), beras (Oryza sativa), ubi kayu (Mannihot utillissima), kangkung (Ipomoea reptans), wortel (Daucus carota), jagung (Zea mays), serta tahu dan tempe.
b.    Larutan Benedict
c.    Larutan Iodium
d.    Larutan Biuret
e.    Larutan NaOH 30%
f.    Larutan asam nitrat (HNO3) pekat
B.    Prosedur Kerja
Prosedur kerja yang dilakukan pada praktikum  uji bahan makanan adalah sebagai berikut:
1.    menyiapkan alat dan bahan eksperimen yang akan di uji.
2.    Menghaluskan bahan makanan pada blender sebelum di uji coba. Bahan yang keras seperti tahu, tempe, tomat, pisang, semangka, nasi, ubi, kangkung, wortel, jagung.
3.    Memasukkan bahan makanan kedalam tabung reaksi (dengan ketentuan satu jenis bahan makan di masukkan kedalam tabung reaksi untuk menguji kandungan masing-masin amilum, glukosa dan protein.
a.    Uji Benedict
1)    Memasukan 5 ml reagen Benedict ke dalam tabung reaksi.
2)    Menambahkan 0,5 ml larutan hasil penggerusan bahan makanan.
3)    Memanaskan tabung reaksi dalam water bath selama 5 menit lalu didinginkan.
4)    Mengamati dan mencatat perubahan yang terjadi dalam tabung. (Bila dalam makanan mengandung Karbohidrat/gula maka larutan akan berwarna kuning kehijauan dan terbentuk endapan merah bata)
b.    Uji Iodium
1)    Memasukkan 5 ml ekstrak buah/makanan.
2)    Menambahkan 2 tetes larutan iodium dan mengocok tabung tersebut.
3)    Mengamati dan mencatan perubahan yang terjadi.
c.    Uji Biuret
1)    Memasukkan 1 ml larutan hasil penggerusan makanan ke dalam tabung reaksi.
2)    Menambahkan setetes demi setetes larutan biuret sambil dikocok hingga tercapai warna maksimum.
3)    Mengamati dan mencatat perubahan yang terjadi.
d.    Uji Xantoprotein
1)    Memasukkan 1 ml larutan hasil pengerusan bahan makanan ke dalam tabung reaksi.
2)    Menambahkan 0,5 ml larutan asam nitrat (HNO3) pekat dan memanaskan dalam waterbath sampai mendidih dan menambahkan larutan NaOH 30% hingga suasana menjadi netral.
3)    Mengamati dan mencatat perubahan yang terjadi.

VII.    HASIL DAN PEMBAHASAN
A.    Hasil Pengamatan
1.    Pengamatan Pada Uji Benedict
Bahan Makanan    Warna awal    Reagen + ekstrak
Ubi  kayu    Putih    Kuning endapan merah bata
Tempe    Putih    Putih kekuningan
Beras    Putih    Kuning kehijauan
Wortel    Orange    Coklat
Pisang    Putih kekuningan    Coklat
Jagung    Kuning    Kuning kehijauan
Tomat    Orange merah    Orange endapan hijau
Kangkung    Hijau    Hijau endapan orange
Tahu    Putih    Putih keruh
Semangka    Merah muda    Orange
2.    Pengamatan  dengan Uji  Iodium
Bahan Makanan    Warna awal    Reagen + ekstrak
Ubi  kayu    Putih    Kuning
Tempe    Putih    Hijau
Beras    Putih    Hitam kebiruan
Wortel    Orange     Hijau
Pisang    Coklat muda    Hijau
Jagung    Kuning    Hijau
Tomat    Orange tua    Hitam kebiruan
Kangkung    Hijau     Orange
Tahu    Putih     Hijau
Semangka    Merah     Hijau terang


3.    Pengamatan dengan Uji Biuret
Bahan Makanan    Warna awal    Reagen + ekstrak
Ubi  kayu    Putih    Putih bening
Tempe    Putih    Ungu muda
Beras    Putih     Ungu
Wortel    Orange Putih    Orange kecoklatan
Pisang    Coklat muda    Coklat tua
Jagung    Kuning    Coklat keruh
Tomat    Hijau    Hijau tua
Kangkung    Hijau     Hijau tua
Tahu    Putih     Ungu terang
Semangka    Merah muda    Merah jingga
4.    Pengamatan dengan Uji Xantoprotein
Bahan Makanan    Perubahan Warna    Setelah dipanaskan    Sesudah dinetralisasi dengan NaOH 30%
    Warna awal    Warna setelah diberi larutan HNO3       
Ubi  kayu    Putih    Putih     Menggumpal    Merah bata
Beras    Putih    Putih     Menggumpal    Merah bata
Wortel    Orange    Orange    Menggumpal    Orange
Tempe    Putih    Putih    Menggumpal    Kuning jingga
Pisang    Kuning    Kuning    Menggumpal    Coklat
Jagung    Kuning    Kuning    Menggumpal    Merah bata
Kangkung    Hijau    Hijau tua    Menggumpal    Merah bata
Tahu    Putih    Putih    Menggumpal    Kuning jingga
Semangka    Merah    Merah    Menggumpal    orange
Tomat    Orange    Orange    Menggumpal    Kuning

B.    Pembahasan
Makanan adalah bahan selain obat yang mengandung zat-zat gizi dan atau unsur-unsur/ikatan kimia yang dapat diubah menjadi zat gizi oleh tubuh, yang berguna bila dimasukkan ke dalam tubuh. Zat makanan terdiri dari karbohidat, lemak, protein, mineral, dan vitamin. Makanan yang kita makan sehari-hari sangat dibutuhkan tubuh sebagai sumber energi, pertumbuhan,  dan untuk menjaga kesehatan. Oleh karena itu, makanan merupakan kebutuhan pokok bagi makhluk hidup untuk kelangsungan hidup dan menjalankan aktivitasnya. Kita membutuhkan makanan dalam jumlah tepat dan mengandung zat nutris lengkap, seperti karbohidrat, protein, lemak, vitamin, mineral dan air.
Karbohidrat adalah senyawa yang tersusun atas unsur-unsur karbon (C), hidrogen (H), dan oksigen (O). Karbohidrat merupakan bahan makanan penting dan sumber tenaga yang terdapat dalam tumbuhan dan daging hewan. Selain itu, karbohidrat juga menjadi komponen struktur penting pada makhluk hidup dalam bentuk serat (fiber), seperti selulosa, pektin, serta lignin. Selain sebagai sumber energi, karbohidrat juga berfungsi untuk menjaga keseimbangan asam basa di dalam tubuh, berperan penting dalam proses metabolisme dalam tubuh, dan pembentuk struktur sel dengan mengikat protein dan lemak.
Protein memiliki fungsi penting yaitu sebagai bahan pembentuk hormon, enzim, antibodi, serta kromosom. Juga berfungsi sebagai bahan pembentuk sel-sel baru. Jika bahan makanan yang telah dicampur oleh beberapa tetes biuret berubah warna menjadi violet maka makanan tersebut mengandung protein.  Lemak berfungsi sebagai pelarut vitamin A, D, E, dan K, sebagai pelindung organ tubuh, dan sebagai pembentuk membran sel. Jika kertas yang telah diolesi oleh bahan makanan menjadi transparant setelah dijemur, maka makanan tersebut mengandung lemak.
Pengetahuan tentang jenis-jenis zat makanan yang dimiliki oleh suatu bahan makanan atau tentang jenis zat makanan terbanyak yang dimiliki oleh suatu bahan makanan akan sangat berguna dalam untuk mengetahui tentang gizi dan kesehatan dalam kehidupan sehari-hari. Dengan pengetahuan ini, kita dapat menjelaskan jenis bahan makanan apa saja yang dapat dijadikan sumber karbohidrat, protein, lemak, atau zat makanan lainnya. Disamping itu kita dapat mengaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari kira-kira bahan makanan apa yang perlu dikonsumsi secukupnya atau yang perlu dikurangi pada kondisi tertentu.
Untuk mengetahui kandungan gizi yang terdapat dalam bahan makanan digunakan indikator uji makanan yang biasa dikenal dengan reagen. Reagen yang biasa digunakan seperti benedict, biuret, xantoprotein, maupun iodium yakni untuk mendeteksi kandungan karbohidrat, lemak, protein, maupun vitamin dalam suatu bahan makanan.
Karbohidrat memegang peranan penting sebagai sumber energi utama. Keberadaan karbohidrat atau amilum dalam bahan makanan dapat diuji dengan pemberian larutan iodium  yang menyebabkan bahan makanan berubah warna menjadi biru ungu atau biru. Ketika menggunakan reagen benedict ke dalam larutan uji, akan mengurangi konsentrasi gula yang menghasilkan endapan merah bata, biru jernih, biru tua dan coklat, tergantung  pada konsentrasi kandungan karbohidrat yang diperiksa.
Penggunaan reagen biuret untuk menguji kandungan protein dalam makanan. Apabila setelah ditetesi biuret, makanan yang mengandung protein akan berubah warna menjadi berwarna ungu. Dari hasil pengamatan uji biuret, dari sepuluh bahan makanan yang diuji, tampak  beras, tempe dan tahu, secara berurutan warna yang dihasilkan setelah penambahan reagen adalah ungu, ungu mudah dan ungu terang, dan disimpulkan bahwa ketiga bahan makanan ini mengandung protein. Vitamin, seperti contoh Vitamin C merupakan asam karbonat yang dapat merusak warna iodium. Pencampuran vitamin C dan iodium yang berwarna coklat dapat mengubah warna coklat iodium menjadi bening atau cerah. Sehingga larutan iodium yang berwarna coklat dapat digunakan sebagai indikator keberadaan vitamin C dalam suatu bahan makanan.
Hasil pengamatan uji iodium serta uji benedict, makanan yang mengandung karbohidrat meskipun dengan kadar yang berbeda-beda yaitu beras menghasilkan warna hitam kebiruan, ubi kayu menghasilkan endapan merah bata, serta wortel dan pisang menghasilkan warna coklat. Uji iodium juga untuk mengetahui kandungan vitamin dalam bahan makanan, dimana warna akhir larutan ujinya yaitu menjadi berwarna bening atau cerah, terdapat pada larutan uji  dari wortel, tahu dan tempe, pisang, jagung menghasilkan warna hijau, kangkung menghasilkan warna orange, tomat menghasilkan warna kuning dan semangka menghasilkan warna hijau terang.
Uji xantoprotein untuk mendeteksi keberadaan inti benzena pada suatu bahan makanan yang mengandung protein. Bahan makanan yang mengandung inti benzena setelah diberi larutan asam nitrat pekat kemudian dipanasi dan detetesi larutan NaOH 30% akan menghasilkan warna kuning jingga dan warna aslinya. Inti benzena berekasi dengan larutan xantoprotein akan berwarna kuning jingga. Pengamatan larutan uji yang menghasilkan warna kuning jingga atau warna aslinya, yaitu terdapat pada wortel menghasilkan warna orange sesuai dengan warna asli, pisang menjadi warna semula, serta tahu dan tempe menghasilkan warna kuning jingga.
Dengan pengujian kandungan makanan ini memberikan pengetahuan dan informasi kepada kita bahwa bahan makanan yang sering kita konsumsi mengandung beragam gizi yang diperlukan tubuh kita. Dalam satu jenis makanan terdapat banyak gizi yang dikandungnya meskipun dalam jumlah yang berbeda-beda. Kandungan gizi dalam makanan yang kita konsumsi berperan sebagai sumber energi bagi tubuh yang memungkinkan kita dapat bersaktifitas.


VIII.    Penutup
a.    Kesimpulan
Dari hasil pengamatan dan pembahasan dalam praktikum test bahan makanan ini, dapat disimpulkan:
1.    Makanan yang kita makan sehari-hari mengandung zat-zat gizi sangat dibutuhkan tubuh sebagai sumber energi, pertumbuhan,  dan untuk menjaga kesehatan seperti karbohidat, lemak, protein, mineral, dan vitamin.
2.    Bahan makanan dari biji-bijian secara umum banyak mengandung karbohidrat dan protein, sedangkan buah-buahan dan sayur-sayuran banyak mengandung vitamin.
3.    Bahan makanan yang diuji secara umum memiliki kandungan karbohidrat, protein dan vitamin namun tersedia dalam jumlah yang berbeda-beda.

b.    Saran
Saran yang dapat saya ajukan pada praktium ini yaitu sebaiknya pengamatan tidak terburu-buru supaya kita dapat mengetahui dan mengambil data yang sempurna.

Asisten Pembimbing


Dwi Nurhidayah S.Pd, M.Sc. 
Daftar Pustaka
Dawn. B. Mark,.dkk. 2000. Biokimia Kedokteran Dasar. EGC: Jakarta.
Deman, J.M. 1997. Kimia Makanan. ITB. Bandung.
Isnaeni. 2006. Fisiologi Hewan. Kanisius. Yogyakarta.
Poedjiadi, A. 2009. Dasar-Dasar Biokimia. UI. Jakarta.
Winarno, F. O. 2004. Kimia Pangan dan Gizi. Gramedia Pustaka Utama : Jakarta.

Wulangi, K. S. 1993. Dasar-Dasar Struktur dan Fisiologi Hewan. Depdikbud: Jakarta.

Yatim, W., 1996. Reproduksi dan Embriologi. Tarsito: Bandung.

Sabtu, 24 Mei 2014

pengaruh sedimentasi di teluk kendari dan upaya konservasinya



BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
                  Kawasan pesisir mempunyai keanekaragaman sumber daya yang tinggi. Sumber daya pesisir tersebut merupakan unsur-unsur hayati dan non hayati yang terdapat di wilayah laut, terdiri atas unsur hayati yang berupa ikan, kerang-kerangan, terumbu karang, padang lamun, dan biota lain beserta ekosistemnya. Sedangkan unsur non hayati terdiri atas sumber daya di lahan pesisir, permukaan air, di dalam air, dan di dasar laut seperti minyak dan gas bumi, pasir kuarsa, timah dan karang mati.
                  Aktivitas manusia dalam memanfaatkan kawasan pesisir seringkali menghasilkan sedimentasi yang dapat membahayakan kehidupan perairan laut dan secara khusus dapat menganggu perkembangan komunitas jenis biota laut.  Semakin bertambahnya aktivitas manusia di berbagai sector kehidupan mengakibatkan tekanan lingkungan terhadap perairan semakin meningkat karena masuknya limbah dari berbagai kegiatan di kawasan-kawasan yang telah terbangun di wilayah pesisir tersebut, sehingga pada suatu saat dapat melampaui keseimbangan air laut yang mengakibatkan sistem perairann menjadi tercemar dan dangkal.
                  Berkaitan dengan tingkat sedimentasi di wilayah perairan serta dampak yang ditimbulkannya khususnya di beberapa kawasan pesisir di Indonesia, sehingga dianggap perlu untuk melihat keterkaitan faktor penyebab timbulnya sedimentasi serta dampak yang ditimbulkan terhadap suatu kawasan tersebut. Salah satu kawasan pesisir di Indonesia yang memiliki dampak sedimentasi  adalah Teluk Kendari yang terletak di Provinsi Sulawesi Tenggara.
                  Teluk Kendari merupakan salah satu kawasan yang berdekatan dengan pusat kegiatan masyarakat. Kondisi seperti ini akan menyebabkan terjadinya ancaman di sekitar teluk. Ancaman tersebut berupa sedimentasi  yang sangat berpengaruh terhadap kelangsungan hidup manusia, dan sangat dirasakan  oleh masyarakat yang tinggal di sekitar teluk kota Kendari. Lingkungan yang dahulu merupakan pemandangan yang sangat indah dan dapat menarik hati setiap pengunjungnya, kini membuat kita miris akan kondisinya. Hal ini dapat kita lihat bahwa di sepanjang teluk kota Kendari telah dipenuhi oleh sampah-sampah anorganik hasil pembuangan manusia, pendangkalan tepian laut oleh lumpur dan pasir yang ikut terbawa oleh arus sungai pada saat musim hujan berlangsung, belum lagi tanaman-tanaman manggrove yang digunakan untuk mengurangi polusi terhadap pantai telah ditebangi oleh masyarakat-masyarakat yang belum mengerti akan manfaat dari tanaman tersebut. Sehingga tidak heran tanggul-tanggul yang dibuat dipinggiran teluk kota mengalami keretakan. 




B.     Rumusan Masalah
                  Rumusan masaalah dalam pembuatan makalah ini adalah sebagai berikut:
1.      Apakah penyebab timbulnya sedimentasi di Teluk Kendari ?
2.         Apa dampak dari timbulnya sedimentasi terhadap keberlangsungan biota laut di teluk Kendari ?
3.         Bagaimana cara mengkonservasi kawasan tersebut?
C.  Manfaat
            Manfaat yang dapat diperoleh dalam pembuatan makalah ini adalah sebagai berikut:
1.      Bagi Pemerintah, bisa dijadikan sebagai sumbangsih dalam penanganan masalah sedimentasi di Teluk Kendari.
2.       Bagi Masyarakat, bisa dijadikan sebagai acuan meningkatkan kesadaran dalam menjaga kebersihan saat berkunjung ke Teluk Kendari, hingga dimasa yang akan datang.
3.      Bagi Mahasiswa, bisa dijadikan sebagai bahan kajian belajar dalam rangka melestarikan alam sekitar, khususnya di Kendari.





BAB II
PEMBAHASAN

A.    Pengertian Sedimentasi
                  Sedimentasi adalah hasil dari proses erosi dari berbagai bentuk secara topografi. Hasil sediment (sediment yield) adalah besarnya sediment yang berasal dari erosi yang yang terjadi di daerah tangkapan air yang diukur pada periode waktu dan tempat tertentu. Sediment yang sering kita jumpai di dalam sungai, baik terlarut atau tidak terlarut, adalah merupakan produk dari pelapukan batuan induk yang dipengaruhi oleh factor lingkungan, terutama perubahan iklim. Hasil pelapukan batuan induk tersebut biasanya dikenal sebagai partikel tanah. Partikel-partikel tanah yang terkelupas dan terangkut ke tempat yang lebih rendah untuk kemudian masuk ke dalam sungai di kenal sebagai sediment. Oleh adanya transport sediment dari tempat yang tinggi ke tempat yang hilir maka dapat menyebabkan pendangkalan waduk, sungai, saluran irigasi, dan terbentuknya tanah-tanah baru disekitar pinggir-pinggir dan di delta-delta sungai.

B.     Kondisi Teluk Kota Kendari
                  Teluk Kendari tak dapat dipisahkan dengan awal keberadaan Kota Kendari yang menjadi ibukota Provinsi Sulawesi Tenggara, saat ini. Letak geografis Kota Kendari yakni di tengah-tengah kota kendari terdapat teluk, sementara di sisi utara, barat, selatan terdapat ketinggian. Di sisi utara ada pegunungan Nipanipa, sementara di sisi selatan ada pegunungan Nanga-nanga. Demikian pula di sebelah barat, Mandonga dan Wua-wua adalah pemukiman yang posisinya lebih tinggi.  Karena posisi demikianlah sehingga erosi  yang terjadi  dari sisi utara, barat  dan  selatan  semuanya bermuara  pada  pusat teluk  yang  pada  gilirannya di sekitarnya. Dulu, waktu Teluk Kendari belum mengalami degradasi seperti sekarang, keberadaan ditinjau dari sisi sosial ekonomi sangat bermanfaat bagi masyarakat sekitar khususnya para nelayan yang bisa mencari ikan dan biota laut lainnya. Banyak jenis kerang bakau dan kepiting yang selalu dicari masyarakat untuk dikonsumsi. Sayangnya, kondisi itu telah berubah fungsi, dari tempat mencari hasil laut oleh masyarakat menjadi tempat pembuangan sampah paling besar dan fantastis, selain erosi yang terjadi secara alamiah. Hal ini sebagai konsekwensi perkembangan penduduk dan kemajuan Kota Kendari.
                  Hasil penelitian Balai Penelitian Daerah Aliran Sungai (BP-DAS) Sampara menyebutkan dalam kurun waktu 13 tahun terakhir terjadi pendangkalan di Teluk Kendari seluas 101,8 hektar dan kedalaman laut berkisar 9 meter sampai 10 meter. Luasan wilayah teluk ini menyusut dari semula 1.186,2 hektar menjadi 1.084,4 hektar pada tahun 2000.
                  Sungai Wanggu yang menguasai Daerah Aliran Sungai (DAS) seluas 152,08 hektar merupakan penyumbang sedimentasi terbesar mencapai 357.810,59 ton/ tahun. Selain itu, menurut dokumentasi institusi teknis Dinas Kehutanan Provinsi Sultra, terdapat 10 hingga 18 sungai yang bermuara di Teluk Kendari. Selain Sungai Wanggu, sungai lain juga ikut berkontribusi, misalnya Sungai Benubenua (DAS) 21,00 Km2, Sungai Lahundape (DAS) 16,00 Km2, Sungai Mandonga (DAS) 18,00 Km2 Sungai Sodoha (DAS) 20,00 Km2, Sungai Tipulu (DAS) 12,00 Km2 serta Sungai Wuawua, Kemaraya, Anggoeya, dan Sungai Kampungsalo.
                  Sumbangsi sedimentasi juga datang dari aktivitas di dermaga yang ada dalam kawasan teluk. Sedikitnya terdapat empat dermaga pelabuhan serta satu galangan kapal pada teluk Kendari. yaitu, Pelabuhan Nusantara yang dikunjungi kapal-kapal berskala besar setiap saat, termasuk persinggahan kapal Pelni, KM Tilongkabila, yang melayani kawasan timur Pulau Sulawesi. Selain itu, ada pula Pelabuhan Ferry penyeberangan dari Kota Kendari-Pulau Wawonii, pelabuhan Perikanan Samudera dan Pelabuhan Pendaratan kapal penangkap ikan serta pangkalan kapal-kapal perikanan laut swasta. Dengan potensi sebanyak itu, perekonomian seyogyanya bisa membaik, namun Teluk Kendari tak lepas dari masalah.
                  Pusat Penelitian Lingkungan Hidup Universitas Halu Oleo telah memprediksi sedimentasi itu sejak tahun 2003. Mereka menyebutkan Sungai Wanggu, Kambu, dan Mandonga adalah tiga sungai menyumbang sedimentasi sekitar 1.330.281 m3/tahun dengan laju pendangkalan 0,207 m/tahun. Hal itu yang membuat kondisi Teluk Kendari semakin memprihatinkan. Lembaga ini juga memperkirakan dalam 10 tahun mendatang kontur kedalaman 1,2 sampai 3 meter berubah menjadi daratan seluas 923,4 hektar, sehingga perairan Teluk Kendari tinggal 197,1 hektar. Lebih jauh lagi diprediksi sampai 24 tahun mendatang kontur kedalaman 1, 2, 3, 4, sampai 10 meter berubah menjadi daratan seluas 1.091,1 hektar, sehingga Teluk Kendari sisa seluas 18,8 hektar.
                  Aktivitas di sekitar DAS yang bermuara ke Teluk Kendari secara langsung maupun tidak langsung menjadi kontributor terbesar pendangkalan teluk. Terutama aktivitas yang tidak ramah lingkungan seperti penebangan kayu maupun anakan kayu di hutan, pertambangan pasir, serta konversi kawasan mangrove menjadi tambak maupun industri dan pertokoan. Secara kasat mata dapat disaksikan bagaimana areal mangrove yang dulu masih luas kini semakin sempit oleh berbagai jenis usaha antara lain pembukaan tambak, pembangunan galangan kapal, pembangunan SPBU dan pembangunan kawasan pertokoan.











C. Pengaruh Sedimentasi  Terhadap Biota Laut
        Sedimentasi di Teluk Kendari terus meningkat dari tahun ke tahun, sehingga terjadi pendangkalan, terutama di muara Teluk Kendari dimana telah terjadi daratan yang membentuk delta yang mengakibatkan kelak akan terjadi penutupan muara. Pendangkalan ini disebabkan oleh sedimentasi dari aliran sungai-sungai yang bermuara di teluk Kendari, terutama sungai Wanggu yang mempunyai peranan sebagai pembawa sedimentasi terbesar. Hal ini dapat berpengaruh terhadap kelangsungan hidup biota laut yang ada di sekitar teluk kendari. Sedimentasi itu mengakibatkan berbagai hal, diantaranya:
1.      Biota-biota laut kehilangan habitatnya dan komunitasnya  untuk mencari makan dan tempat berlindung. Jika kehilangan makanan dan tempat berlindung populasi ikan menyusut. Hal ini mengakibatkan  berkurangnya hasil-hasil nelayan dalam menangkap ikan serta menimbulkan pendapatan masyarakat menurun.
2.      Sedimentasi membawa bahan-bahan kimia yang bersifat toksik yang berdampak negatif pada biota air karena dapat mengalami  kegagalan  fungsi biologi seperti metabolisme, reproduksi, fotosintesis, dan pengikatan nutrien.
3.      Sampah domestik yang terbawa oleh erosi dapat mempengaruhi biota air di pesisir pantai  secara tidak langsung sebagai akibat perubahan fisik air dan tertimbunnya tumbuhan air oleh sampah padat yang terbawa oleh air. Beberapa bentuk sampah padat dapat  menambah input nutrien dan bahan toksik dalam jumlah besar. Pembuangan sampah padat dari kegiatan industri dalam jumlah besar mungkin dapat menimbun vegetasi alami, menghalangi gerakan air, sehingga mengurangi suplai air untuk suatu lahan basah, menambah muatan sediment pada lahan basah bagian bawah dan menjadi sumber terlepasnya nutrien dan bahan toksik yang pada gilirannya dapat mempengaruhi kehidupan air. Sampah domestik juga mengurangi keindahan lingkungan air.
4.      Terjadinya sedimentasi menimbulkan kerusakan dan pendangkalan pesisir laut yang mengakibatkan berkurangnya kekayaan hasil laut seperti karang, lamun, bintang laut, dan sebagainya.

D.    Berbagai Cara Konservasi
a.    Pengerukan sedimen sungai
              Pengerukan merupakan langkah atau kegiatan menggali material-material yang ada di permukaan bumi dengan menggunakan alat bantu seperti mesin ataupun alat sederhana. Pengerukan sedimen di muara sungai dilakukan dengan menggunakan alat berat (ekskavator) yang dikendalikan manusia dan alat sederhana berupa sekrup yang dilakukan oleh beberapa orang.
b.      Teknik Sabo
Suatu terminologi teknik dari bahasa Jepang untuk mengartikan pengendalian erosi dan pergerakan sedimen (erosion and sediment movement control). Suatu sistem atau teknik untuk pengendalian erosi dan pergerakan sedimen (control the production and move of sand and gravel with a nature of disaster). Dam Sabo merupakan Suatu struktur bangunan melintang sungai, sebagai salah satu bangunan pengendali sedimen yang memiliki peranan paling dominan mengendalikan sedimen dalam sistem. teknik sabo merupakan upaya pengendalian erosi, sedimen, lahar hujan dan pengendalian tanah longsor. fungsi sabo ini antara lain menangkap aliran  debris sehingga debit aliran menjadi berkurang. selain itu mengarahkan dan memperlambat  kecepatan aliran, tempat  pengendapan , pengarah aliran untuk mencegah penyebaran, dan membatasi terjadinya aliran debris.
berbagai fasilitas bangunan sabo yang dapat diterapkan untuk pengendalian sedimen yaitu, mulai sumber sedimen (hulu), pengaliran (tengah), samppai pengendapan (hilir) yakni dam sabo, tanggul, kantong pasir, saluran pengatur kanal, tanggul terbuka, dan perlindungan tebing.  teknik sabo dapat dikembangkan dengan melibatkan pemerintah dan masyarakat setempat. Jika penerapan teknik sabo ke depan dapat di kembangkan dan dilaksanakan dengan baik dan penuh kearifan maka tidaklah berlebihan jika dikatakan teknik sabo sepantasnya menjadi clean technology terutama dalam upaya pengendalian sedimentasi di hilir sungai.
c.        Rehabilitasi hutan mangrove
              Rehabilitasi hutan mangrove dapat dilakukan dengan  cara menjaga dan memperluas penyebaran ekosistem hutan mangrove yang merupakan vegetasi hutan tropis dan sub-tropis yang dapat tumbuh dengan baik pada daerah pasang surut dengan tipe substrat berlumpur atau lumpur lunak yang banyak mengandung endapan lumpur (silt), lempung (clay), dan bahan organik serta pada substrat karang mati (dead coral) yang ditutupi oleh selaput tipis.
d.      Partisipasi Masyarakat
            Harus adanya keinginan dan usaha yang kuat dari instansi terkait, dalam menjalin kerja sama yang baik dengan intansi lain yang berada di luar wilayah administrasi dalam menangani penyebab erosi dan sedimentasi diwilayah DAS. “Selain itu, kerjasama lintas kabupaten kota dan provinsi harus berjalan dengan baik, sehingga penanganan Teluk Kendari menjadi kegiatan yang terorganisir secara optimal.




Selasa, 11 Februari 2014

zoologi invertebrata- rotifera


BAB I
PENDAHULUAN
a.       Latar belakang

            Di permukaan bumi banyak terdapat populasi hewan-hewan mikroskopis. Khusus pada makalah ini akan dibahas tentang filum rotifera’ . filum ini dibagi menjadi tiga kelas : Monogononta, Bdelloidea , dan Seisonidea. Kelompok terbesar adalah Monogononta, dengan sekitar 1500 spesies, diikuti oleh Bdelloidea, dengan sekitar 350 spesies. Hanya ada dua spesies yang dikenal Seisonidea., yang sebelumnya dianggap sebagai sebuah divisi terpisah, telah tegas menunjukkan untuk dimodifikasi rotifer. Hewan-hewan ini bersifat filter feeding, dan beberapa spesies dapat menjadi pakan bagi larfa ikan . sehingga sering dibudidayakan untuk memenuhi pakan larfa ikan.

B. Rumusan Masalah
1.      Apa yang dimaksud dengan filum Rotifera ?
2.      Bagaimana morfologi dan anatomi filum Rotifera ?
3.      Bagaimana fisiologi dari filum Rotifera ?
4.      Bagaimana reproduksi dan regenerasi filum Rotifera ?
5.      Sebutkan klasifikasi filum Rotifera ?
6.      Sebutkan nilai ekologis dari filum Rotifera ?

A.    Tujuan
Adapun tujuan dari penulisan makalah ini adalah mahasiswa diharapkan dapat:
1.      Mengetahui pengertian filum Rotifera.
2.      Mengetahui morfologi dan anatomi filum Rotifera.
3.      Mengetahui fisiologi filum Rotifera.
4.      Mengetahui reproduksi dan regenerasi filum Rotifera.
5.      Mengetahui nilai ekologis filum Rotifera.
6.      Mengklasifikasikan filum Rotifera.





BAB II
PEMBAHASAN

A. ROTIFERA

Rotifera  berasal dari kata Rota=roda/wheel ,Fera=to carry. Jadi rotifera ialah hewan yang memilki roda di atas kepalanya jika dilihat dari mikroskop zooplankton Rotifera (biasa disebut hewan roda) membuat sebuah filum dari mikroskopis dan dekat-mikroskopis pseudocoelomata hewan. Mereka pertama kali dijelaskan oleh John Harris pada tahun 1696, dan bentuk lain yang dijelaskan oleh Anton van Leeuwenhoek pada tahun 1703. Kebanyakan rotifera sekitar 0,1-0,5 mm panjang (walaupun ukuran mereka dapat berkisar dari 50 pM menjadi lebih dari 2 mm), dan umum di air tawar lingkungan di seluruh dunia dengan beberapa laut spesies, misalnya, dari genus Synchaeta. Beberapa rotifera berenang bebas dan benar-benar planktonik , bergerak lain dengan inchworming sepanjang substrat, dan beberapa sessile , hidup di dalam tabung atau holdfasts gelatin yang melekat pada substrat.
1.1.            Klasifikasi
Kingdom    : Animalia
Filum          : Rotifera
Kelas           : Eurotatoria
Ordo            : Ploima
Famili         : Brachionidae
Genus         : Brachionus
Spesies        : Brachionusplicatilis
Sekitar 25 spesies kolonial (misalnya, Sinantherina semibullata), baik sessile atau plankton. Rotifera merupakan bagian penting dari zooplankton air tawar, menjadi foodsource besar dan dengan banyak spesies juga berkontribusi terhadap dekomposisi bahan organik tanah. Sebagian besar spesies rotifera adalah kosmopolitan , tetapi ada juga beberapa endemik spesies, seperti Cphalodella vittata ke Danau Baikal.


1.2.            Taksonomi dan penamaan

Pdt John Harris pertama menggambarkan rotifera (khususnya Rotifer Bdelloid ) pada tahun 1696 sebagai "binatang seperti besar belatung yang dapat kontrak dirinya menjadi seorang tokoh bola dan kemudian meregangkan sendiri lagi, ujung ekornya muncul dengan tang seperti bahwa dari sebuah earwig". Pada 1702, Anton van Leeuwenhoek memberikan penjelasan rinci tentang vulgaris Rotifer dan kemudian dijelaskan ringens Melicerta dan spesies lainnya. Ia juga yang pertama menerbitkan pengamatan dari kebangkitan spesies tertentu setelah pengeringan. Bentuk lain yang digambarkan oleh pengamat lain, tapi tidak sampai publikasi Kristen Gottfried Ehrenberg s 'Die Infusionsthierchen als vollkommene Organismen tahun 1838 bahwa rotifera diakui sebagai multisel binatang.
Taksonomi, mereka ditempatkan dalam phylum Rotifera. filum ini dibagi menjadi empat kelas : Monogononta , Digononta , Bdelloidea , dan Seisonidea. Kelompok terbesar adalah Monogononta, dengan sekitar 1500 spesies, diikuti oleh Bdelloidea, dengan sekitar 350 spesies. Hanya ada dua spesies yang dikenal Seisonidea., yang sebelumnya dianggap sebagai sebuah divisi terpisah, telah tegas menunjukkan untuk dimodifikasi rotifer. Namun, hubungan yang tepat untuk anggota lain dari filum belum diselesaikan.

1.3.            Anatomi

Rotifera memiliki simetri bilateral dan berbagai bentuk yang berbeda. Tubuh rotifer adalah dibagi ke dalam batang, kepala, dan kaki, dan biasanya agak silindris. Ada berkembang dengan baik kutikula , yang mungkin tebal dan kaku, memberikan suatu binatang seperti bentuk kotak, atau fleksibel, memberikan hewan a-seperti bentuk cacing; rotifera tersebut masing-masing disebut loricate dan illoricate. kutikula kaku sering terdiri dari beberapa piring, dan mungkin beruang duri, pegunungan, atau ornamen lainnya.
Fitur yang paling khas dari rotifera adalah adanya bersilia struktur, yang disebut korona, di kepala. Dalam spesies yang lebih primitif, ini bentuk cincin sederhana dari silia sekitar mulut dari mana sebuah band tambahan bulu mata membentang di atas belakang kepala. Pada sebagian besar rotifera, namun ini telah berkembang menjadi sebuah struktur yang lebih kompleks.
Modifikasi rencana dasar korona termasuk perubahan dari bulu mata ke dalam bulu atau jumbai besar, dan baik ekspansi atau kehilangan band bersilia sekitar kepala. Dalam genera seperti Collotheca , korona dimodifikasi untuk membentuk saluran sekitar mulut. Pada banyak spesies, seperti Testudinella , bulu mata sekitar mulut telah menghilang,
meninggalkan hanya dua band lingkaran kecil di kepala. Dalam bdelloids , rencana ini lebih lanjut dimodifikasi, dengan membelah band atas menjadi dua roda berputar, dibangkitkan pada alas menonjol dari permukaan bagian atas kepala.
Batang pohon membentuk bagian utama tubuh, dan membungkus sebagian besar organ internal. Proyek-proyek berjalan kaki dari belakang bagasi, dan biasanya jauh lebih sempit, memberikan penampilan ekor. Kutikula atas kaki sering bentuk cincin, sehingga muncul tersegmentasi, meskipun struktur internal seragam. Banyak rotifera dapat menarik kembali kaki yang sebagian atau seluruhnya ke dalam bagasi. Kaki berakhir di dari satu sampai empat jari kaki, yang, pada spesies sessile dan merangkak, mengandung kelenjar perekat untuk melampirkan hewan ke substratum tersebut. Dalam spesies yang berenang bebas banyak, kaki secara keseluruhan berkurang ukurannya, dan bahkan mungkin tidak ada.

1.4.            Sistem Pencernaan

Bulu mata koronal menciptakan arus yang menyapu makanan ke dalam mulut. Mulut terbuka ke dalam karakteristik mengunyah tekak (disebut mastax itu), kadang-kadang melalui tabung bersilia, dan kadang-kadang langsung. Faring memiliki dinding otot yang kuat dan mengandung kecil, kaku, seperti struktur rahang disebut trophi. Bentuk trophi bervariasi antara spesies yang berbeda, tergantung sebagian pada sifat makanan mereka. In pengumpan suspensi, yang trophi tercakup dalam bubungan penggilingan, sedangkan pada spesies
karnivora lebih aktif, mereka mungkin berbentuk seperti forceps untuk membantu menggigit menjadi mangsa. Dalam beberapa ectoparasitic rotifera, mastax ini disesuaikan dengan pegangan ke tuan rumah, walaupun, orang lain, kaki melakukan fungsi ini sebagai gantinya.
Dibalik mastax terletak sebuah kerongkongan , yang membuka ke perut di mana sebagian besar pencernaan dan penyerapan terjadi. perut terbuka menjadi pendek usus yang berakhir di kloaka pada permukaan posterior punggung binatang. Sampai tujuh kelenjar ludah yang hadir dalam beberapa jenis, mengosongkan ke mulut di depan kerongkongan, sementara perut dikaitkan dengan dua kelenjar lambung yang menghasilkan enzim pencernaan.

1.5.            Alat Ekskresi

Sepasang protonephridia terbuka ke dalam kandung kemih yang mengalir ke kloaka. Organ-organ ini mengeluarkan air dari tubuh, membantu menjaga keseimbangan osmotik.

Pada tiap sisi lateral terdapat sebuah protonephridium dengan 2-8 flame bul. Kedua protonephrida tersebut bersatu pada kantung kemih (bladder), yang bermuara pada bagian ventral kloaka. Isi bladder dikosongkan melalui anus dengan jalan kontraksi, dengan kecepatan satu sampai empat kali per menit. Pembuangan yang demikian cepat membuktikan bahwa fungsi protonephrida adalah sebagai osmoregulator, osmoregulator yaitu membuang kelebihan air didalam tubuh. Dalam beberapa menit dikeluarkan sejumlah cairan yang setara dengan berat tubuh rotifera tersebut.

1.6.            Sistem Saraf

Rotifera memiliki otak kecil, terletak tepat di atas mastax, dari mana sejumlah saraf memperpanjang seluruh tubuh. Jumlah saraf bervariasi antara spesies, meskipun sistem saraf biasanya memiliki susunan yang sederhana. Dekat dengan otak terletak sebuah organ retrocerebral, terdiri dari dua kelenjar kedua sisi dari suatu kantung medial. kantung ini mengalir ke saluran yang membagi menjadi dua sebelum membuka melalui pori-pori pada bagian paling atas kepala. Fungsinya tidak jelas.
Rotifera biasanya memiliki satu atau dua pasang pendek antena dan sampai lima mata. Mata sederhana dalam struktur, kadang-kadang dengan hanya satu sel fotoreseptor tunggal. Selain itu, bulu dari korona sensitif terhadap sentuhan, dan ada juga sepasang pit sensor kecil dilapisi oleh silia di daerah kepala.

1.7.            Reproduksi dan siklus Hidup

            Seperti halnya aschelminthes yang lain, semua rotifera juga dioecius. Reproduksi selalu seksual. Individu jantan selalu lebih kecil dari yang betina, biasanya mengalami degenerasiyaitu tidak mempunyai alat pencernaan, hanya memiliki alat reproduksi saja. Partogenesis merupakan peristiwa yang umum terjadi. Perkawinan pada rotifera biasanya dengan jalan “Hipodermic Implegnation” , dimana sperma masuk melalui dinding tubuh. Tiap nukelus pada ovari menjadi sebuah telur.  Kebanyakan spesies mempunyai ovari dengan sepuluh sampai dua puluh nuklei, maka telur yang dihasilkan selama hidupnya tidak lebih dari jumlah tersebut.Rotifera jantan siap melakukan perkawinan satu jam setelah menetas kemudian akan mati. Bila tidak menemukan rotifera betina, maka rotifera jantan akan mati pada umur dua sampai tujuh hari tergantung jenisnya. Pada Bdelloidea, dimana tidak pernah ada jantannya,reproduksi selalu dengan cara partenogenesis yaitu betina menghasilkan telur yang selalu menetas menjadi betina.Pada kelas Monogonont, yang dalam keadaan tertentu ada jantannya, terdapat tigamacam telur. Tipe pertama adalah telur amictic, hasil partenogensis, bercangkang tipis,diploid, tidak dapat dibuahi dan menetas menjadi betina amictic. Tipe kedua adalah telurmictic, bercangkang tipis tetapi haploid, bila tidak dibuahi secara partenogenetik akan menetas menjadi jantan yang haploid. Bila telur mictic dibuahi oleh sperma oleh jantan yang haploid tersebut, akan menjadi telur dorman, bercangkang tebal dan keras, resisten terhadap kekeringan dan lingkungan buruk, dan memerlukan istirahat beberapa bulan sebelum dapatmenetas. Dalam lingkungan yang baik, telur dorman menetas menjadi betinan amictic diploid.
Rotifera adalah dioecious dan bereproduksi secara seksual atau parthenogenetically. Mereka adalah seksual dimorfik, dengan perempuan selalu menjadi lebih besar daripada laki-laki. Dalam beberapa spesies, ini relatif ringan, tetapi di lain wanita mungkin sampai sepuluh kali ukuran jantan. Dalam spesies partenogenesis, laki-laki dapat hadir hanya pada waktu tertentu tahun, atau tidak ada sama sekali.
Sistem reproduksi wanita terdiri dari satu atau dua ovarium, masing-masing dengan kelenjar vitamin A yang memasok telur dengan kuning. Bersama-sama, setiap ovarium dan vitamin A bentuk tunggal syncitial struktur di bagian anterior hewan, membuka melalui saluran telur ke dalam kloaka.
Pria biasanya tidak memiliki sistem pencernaan fungsional, dan karena itu pendek-tinggal, seringkali sudah secara seksual subur saat lahir. Mereka memiliki satu testis dan saluran sperma , terkait dengan sepasang struktur kelenjar disebut sebagai " prostat "(meskipun mereka tidak berhubungan dengan organ vertebrata dengan nama yang sama). Duktus sperma membuka ke gonopore di ujung belakang binatang, yang biasanya diubah untuk membentuk sebuah penis. gonopore ini homolog dengan kloaka betina, tetapi pada spesies yang paling tidak memiliki koneksi ke sistem pencernaan vestigial, yang tidak memiliki sebuah anus.

Pemupukan bersifat internal. Baik laki-laki memasukkan penisnya ke dalam kloaka betina atau menggunakannya untuk menembus kulitnya, menyuntikkan sperma ke dalam rongga tubuh. Telur mengeluarkan shell, dan terpasang baik ke substratum, tanaman di dekatnya, atau tubuh sendiri betina. beberapa spesies, seperti Rotaria , adalah ovoviviparous , penahan telur dalam tubuh mereka sampai mereka menetas.
Sebagian besar spesies menetas sebagai versi miniatur orang dewasa. spesies Sessile, bagaimanapun, adalah lahir sebagai berenang bebas larva , yang sangat mirip orang dewasa spesies yang berenang bebas terkait. Betina tumbuh dengan cepat, mencapai ukuran dewasa mereka dalam beberapa hari, sementara pria biasanya tidak tumbuh dalam ukuran sama sekali.
Rentang hidup monogonont perempuan bervariasi dari beberapa hari sampai sekitar tiga minggu.

1.8.            KLASIFIKASI

FILUM ROTIFERA (ROTATORIA)

Simetri bilateral; tubuh biasanya mempunyai jumlah sel yang tetap; bentuk tubuh agk silindris, biasanya terdapat corona bercilia di bagian anterior; saluran penceraan lengkap dan mempunyai mastax; syaraf ganglion dorsal sebagai otak; reproduksi seksual, dioecious, beberapa partenogeesis; kebanyakan kurang dari 1mm.
Kelas I.Seisonacea
Tubuh panjang; corona mengecil; ovary sepasang; jantan berkembang biak; hanya ada satu genus dengan dua sepesies laut, hidup komensal pada Nebila , kelas Crustacea.
Kelas II.Bdelloidea
Tubuh silindris dan retaktil:corona seperti dua roda yang berputar; ovary sepasang; kaki dengan 2-4 jari atau tidak dikenal; parthenogenesis; berenang atau merayap; contoh philodina dan rotatoria,Embata.

Kelas III. Monogonata
Ovari sebuah; jantan biasanya ada dan mengalami degenerasi.
Ordo1. Ploima
Tubuh bulat sampai lonjong, atau agak pipih; loricaad atau tidak ada; apendik ada atau tidak ada; apendik ada atau tidak ada; berenang bebas atau merayap sebagai aufwuchs; keratella, synchaeta , dan Branchionus di laut dan air tawar, chromogaster di laut hanya memakan dinoflagelata.
Ordo 2. Flosculariacea
Corona terdiri atas dua rangkaian cilia yang konsentrik dan di tengahnya terdapat sebuah galur bercilia; biasanya terdapat 1-2 antena; soliter atau koloni; berenang bebas atau sessile; testudinella berenang bebas, Floscularia sessile conochilus koloni dan berenang bebas.
1.9.            Nilai Ekonomis
Rotifera memegang peranan penting dalam rantai makanan pada ekosistem perairan tawar. Di satu pihak memakan serpihan-serpihan organic dan ganggang bersel satu, dilain pihak rotifera merupakan makan bagi hewan yang lebih besar seperti cacing dan crustacea.
Branchionus merupakan rotifera yang benyak dibudidayakan sebagai makanan alami untuk larva ikan dan udang. Karena berukuran kecil sekitar 3000 mikron, dan berkembang biak secara cepat,membuatnya cocok untuk makanan larva ikan mas yang baru habis kuning telurnya. Di daerah tropis,Branchionus mulai bertelur pada umur 28 jam, dan setelah 24 jam telur menetas. Selama hidupnya yang sebelas hari, seekor Branchionus menghasilkan 20 butir telur. Pada habitat yang tercemar bahan-bahan organic dan berlumut, biasanya banyak dijumpai Bdelloidea seperti Philodina dan Rotaria.

1.10.        KEUNIKAN
Kepalanya mempunyai banyak bulu getar yang membantu untuk bergerak menarik makanan ke dalam mulutnya. Ekor atau kakinya bercabang dan menempel pada bendadengan cara mengeluarkan sekresi dari semen. Tubuhnya biasanya berbentuk silindrik danditutupi oleh kutikel serupa cangkang

Diberdayakan oleh Blogger.

Followers